Contoh Puisi Singkat Tentang Pengalaman

 Puisi Singkat Tentang PengalamanINFOREMAJA.NET ~ Desa impian. Pada hari itu ku berjalan di sebuah desa, desa itu begitu indah dan sejuk, tetapi !keindaan itu berubah menjadi desa yang kotor, tercemar dan penuh dengan sampah.

Ohh……desaku……..apakah ini salahku karna aku selalu mengotorimu dengan sampahku? oh……maafkan aku atas semua kelalaianku. Aku berjanji padamu oh desaku.

Itulah salah satu contoh tentang puisi pengalaman yang pernah di alami. Kami mencoba membuatkan untuk anda sekalian para remaja yang menginginkannya.

Contoh Puisi Singkat Tentang Pengalaman ini saya tulis karena memang banyak sekali yang mencari Puisi Singkat Tentang Pengalaman yang pernah di alaminya.

Tentang Sebuah Peninggalan

Sukapura

Bertahan dikaki masjid, pinggir jalan ini
Sampai sekarang belummmati
Tidak dalam karya waktu
Atau rintik goresan puisiku

Saksi bisu sejarah terus dalam kekakuan usia
Mungkin sama nanti apa yang kutemui
Mereka berjajar dalam kebisuan
Tapi diberitahukan kepada yang terbuka telinganya
Suara dzikr mereka, masih mampu kalahkan suara Jakarta

Sekalipun aku tidak mendengar
Terpuji Tuhan izinkan aku mampu mengecapnya
Sekalipun masih tanpa suara

Mereka…

Berjajar dalam kebisuan sebelumnya mereka kukira
Ini ditulis setelah endapan yang tumbuh di atasnya harapan
Harapan yang sudah dibasahi embun keyakinan semalam tadi
Dari jantung yang tercabik, ketika sepasang bibir berbicara :
“Jauh dari empunya yang pergi berkelana,
Mereka tidak pernah makan dan mandi”
Dalam ruangan itu kalian tidak hanya berjajar membisu
Tapi juga memanggil-manggil…

Dan hatiku diketuk tiga permintaan bunga setaman
Titisan warisan guru-leluhur yang tercinta
Kini telah kubukakan pintu
Tiga permintaan itu menjadi dinding, perapian, dan kamar
Yang tertutup rapat.

Pesan telah disampaikan
Dan dijawab oleh hatiku yang bisu
Aku semakin mengecap
Tapi masih tanpa suara…

Kata angin aku kan membuka mata mereka
Suara mereka kuperdengarkan dihadapan para pejuang
Tapi dalam deru aku berdebu
Tersingkir ke sudut masjid yang dari sana
mataku merabun melihat namaNya

Tapi,
Apakah tak salah jika telinga fana mendengar lagu :
“Kami hanya tinggal menunggumu…”

Jauh dan Tak Terlihat

Tentang para pejalan

Merpati memetik sekuntum mawar
Dibiarkan olehnya semak rumahnya itu terbakar
Ia tidak dikenali dibangsanya lagi
Hingga akhirnya terjerumus dalam luka,
Jatuhkan diri dari ranting yang tak tinggi
Dan sesaat sebelum bangkit, jerat manusia sudah mengikat dua sayapnya

Air matamu berbisik tentang langit yang tak tercapai
Terus kau ratapi, bersamaan dengan keluh sayapmu yang disobek angin
Lusuh kau hinggap digenting masjid
Sebelum waktu membawamu kembali ke ibu bumi
Menatap jalan itu, engkau tidak berkedip.

Ujung kukumu pun tak ragu
Sambil menunjuk tanpa arah
Tak tahu kau musti terbang kemana lagi
Ia tidak melihat dimana kau sedang berada
Nafas dan bintik tenaga terakhirmu jadi alasan
Yang buat kau terus terbang abadi
Di langit kau tenggelam dan hilang

Mencari Kabar Angin

Selalu di BandungMu

Gigil memecah kesunyian shubuh dalam diriku
Tinggal beberapa anak waktu saja aku akn tetap disini
Setelah cukup mengobati perih yang jangkiti adik di hati
Aku menemukan jalan lurus dengan mengantar ibu

Kabar dari angin dihirup semalam
Sekalipun aku tak tahu selama dan apa harumnya
Aku dapat sedikit warna

Tidak seperti bunga yg menanti hujan di musim hujan
Aku harus pergi jalan lagi pagi ini
Lebih menghirup debu trotoar malam hari
Di kota bandung dua kali kualami tanjakan tinggi
Pada Dua kali bahasa waktu dalam menghitung usia

Dan ini, makin beri aku cahaya, jalan apa yg kutempuh
Langkah apa yg musti diambil
Dan semoga, juga membuka mata,
dimana nanti aku kan duduk bertapa

Langkah dan Isi Hati Satu

Membiru ketika kelana menambah kesan indah
Mereka kutinggal telah segaris dengan angin
Datang-pergi dan jelas ngambangnya
Aku disini batu
-kikis, hempas, injak : berseru-
Yang ingin meninggal kerasnya

Entah bagaimana mentari mengabarkan
Waktu menandakan tanda tak terbaca
Hilang segala mereka dari hati
Menonjok-nonjok wajah menangis orangtua
Meratap, memohon hangat makna “kembali”

 Tatapan butuh lampias makna
Serius harus dibentur lakuan utuh
Mencuci wajah keruh
Membalas do’a dengan kata “segera”

Sang mentari

Detik demi detik telah ku lalui saat liburan sekolah didesa
banyak tempat indah yang kudatangi ..
rasanya ada yang kurang jika tidak bermain-main ke sawah
waktu pagi , itulah yang waktu yang tepat untuk menikmati suasana pagi disana ..

Butiran butiran embun yang menempel pada dedaunan
seperti menjernihkan mata ..
melihat sungai yang sangat jernih airnya
menggoda kami semua untuk bermain dengannya ..

Tak terasa sudah pukul 05.30 WIB
tiba-tiba pandangan kami tertuju pada sesuatu ..
yap betul , sang Mentari ..
yang malu-malu untuk menampakkan dirinya
yang terbit dibelakang gunung ..
sudah lama aku tidak melihat fenomena alam yang indah ini
rasanya sangat syahdu ku dibuatnya ..

Seakan aku terpaku ..
aku sangat mengagumi sang mentari
sinar hangatnya membelai setiap detak jantungku ..
terang cahayanya menyorot setiap jalan langkahku

aku mulai berfikir ..
jika aku sang Mentari
aku akan selalu tersenyum pada setiap makhluk ..
yang menatapku ..
sekalipun ia memaki